REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Tak disangka, pertemuan KH Hasyim Muzadi dengan Mbah Maridjan pada tahun 2006 lalu, merupakan pertemuan terakhir Kiai Hasyim dengan Mbah Maridjan.
''Beliau merupakan sosok yang sederhana,'' tandas Sekjen ICIS serta pengasuh pondok Pesantren Al Hikam, KH Hasyim Muzadi, dalam siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, Rabu (27/10).
Namun pertemuan Kiai Hasyim dengan Mbah Maridjan yang merupakan Ketua Ranting NU di desanya sangat berkesan bagi sosok mantan Ketua PBNU ini.''Saya menjadi ingat pesan Mbah Maridjan pada tahun 2006 lalu. Beliau berpesan dalam bahasa Jawa. 'Panjenengan sak konco poro piageng, kedah ''temen lan sak temene'' mugi ndonyane tenterem (Pak Hasyim dan para Pembesar harus benar dan bertindak sebenarnya agar dunia tenteram),'' papar Kiai Hasyim Muzadi.
''Hari ini Mbah Maridjan menyerahkan diri kepada Allah SWT dalam keadaan sujud. Seakan memberitahu kita bahwa hanya sujud kepada Allah SWT yang bisa dan harus kita siapkan menghadapi segalanya, karena tak mungkin melalui rekayasa kita,' ungkap Kiai Hasyim Muzadi.
Tampilkan postingan dengan label Keseharian Mbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keseharian Mbah. Tampilkan semua postingan
21.30
19.37
Sosok Religius yang Selalu Tersenyum
Jakarta - Siapa tak kenal dengan Mbah Maridjan. Pria renta yang merupakan salah satu korban tewas letusan Gunung Merapi ini ternyata adalah sosok yang taat menjalankan ibadah.
Setiap suara adzan berkumandang dari masjid yang terletak tak jauh dari rumahnya, Mbah Maridjan langsung bergegas ke masjid meskipun sedang ada tamu misalnya. Para tamu harus menunggu simbah selesai salat berjamaah, atau sekalian ikut salat di masjid.
Bahkan, saat para warga Dusun Kinahrejo diungsikan, Selasa (26/10/2010), Mbah Maridjan malah memilih tirakat di dalam masjid, berharap agar tidak terjadi bencana di kampung halamannya.
Menurut kerabat dekat Mbah Maridjan, Tutur Wiyarto, Mbah Maridjan adalah sosok yang religius. "Beliau orangnya tidak klenik loh, justru muslim yang sangat taat," kata Agus saat diwawancarai tvOne, Rabu (27/10/2010) kemarin petang.
Hal ini tak cuma terjadi saat merapi bergejolak minggu-minggu ini saja, melainkan pada saat Merapi beraktivitas pada 2006 lalu, sikap religius Mbah Maridjan juga memang sudah terlihat.
Jika tiba waktu salat Dzuhur, Mbah Maridjan langsung ke masjid, setelah itu pria renta ini melakukan aktivitasnya sehari-hari yaitu mencari rumput untuk sapi ternaknya, dan baru pulang di sore hari.
Mbah Maridjan juga tidak sakti mandraguna seperti yang dibayangkan orang. Pria bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo ini juga mengaku bukanlah orang yang sakti. Jika ada orang iseng meminta ilmu atau jodoh, Mbah Maridjan langsung menolaknya, menolak bukan karena pelit tapi memang karena tidak bisa.
Setiap kali didatangi oleh para tamu, meski dia tidak kenal, dia selalu mempersilakan dan selalu tersenyum. Tapi satu yang akhir-akhir ini dia tidak mau lakukan, berfoto bersama.
Seperti yang tampak di tayangan TV beberapa sehari sebelum dia meninggal. Pria yang rambutnya sudah memutih ini tampaka menutupi wajahnya sambil tersenyum malu saat mata kamera ditujukan kepadanya.
Kini Mbah Maridjan telah tiada. Jasa-jasanya akan selalu dikenang sebagai penjaga Gunung Merapi Sampai akhir hayat.
(anw/mad) Detik . com
Setiap suara adzan berkumandang dari masjid yang terletak tak jauh dari rumahnya, Mbah Maridjan langsung bergegas ke masjid meskipun sedang ada tamu misalnya. Para tamu harus menunggu simbah selesai salat berjamaah, atau sekalian ikut salat di masjid.
Bahkan, saat para warga Dusun Kinahrejo diungsikan, Selasa (26/10/2010), Mbah Maridjan malah memilih tirakat di dalam masjid, berharap agar tidak terjadi bencana di kampung halamannya.
Menurut kerabat dekat Mbah Maridjan, Tutur Wiyarto, Mbah Maridjan adalah sosok yang religius. "Beliau orangnya tidak klenik loh, justru muslim yang sangat taat," kata Agus saat diwawancarai tvOne, Rabu (27/10/2010) kemarin petang.
Hal ini tak cuma terjadi saat merapi bergejolak minggu-minggu ini saja, melainkan pada saat Merapi beraktivitas pada 2006 lalu, sikap religius Mbah Maridjan juga memang sudah terlihat.
Jika tiba waktu salat Dzuhur, Mbah Maridjan langsung ke masjid, setelah itu pria renta ini melakukan aktivitasnya sehari-hari yaitu mencari rumput untuk sapi ternaknya, dan baru pulang di sore hari.
Mbah Maridjan juga tidak sakti mandraguna seperti yang dibayangkan orang. Pria bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo ini juga mengaku bukanlah orang yang sakti. Jika ada orang iseng meminta ilmu atau jodoh, Mbah Maridjan langsung menolaknya, menolak bukan karena pelit tapi memang karena tidak bisa.
Setiap kali didatangi oleh para tamu, meski dia tidak kenal, dia selalu mempersilakan dan selalu tersenyum. Tapi satu yang akhir-akhir ini dia tidak mau lakukan, berfoto bersama.
Seperti yang tampak di tayangan TV beberapa sehari sebelum dia meninggal. Pria yang rambutnya sudah memutih ini tampaka menutupi wajahnya sambil tersenyum malu saat mata kamera ditujukan kepadanya.
Kini Mbah Maridjan telah tiada. Jasa-jasanya akan selalu dikenang sebagai penjaga Gunung Merapi Sampai akhir hayat.
(anw/mad) Detik . com
09.41
Mengunjungi Kaki Merapi dan Rumah Mbah Maridjan
Yogyakarta, serasa masih begitu kuat menorehkan kenangan manis saat aku masih “muda”, hehehehe. Apalagi menikmati YK dengan ditemani sang pujaan hati….woooow mantab. Rasanya sudah kurang lebih 4 tahun lamanya aku terakhir mengunjungi kota ini. Kerinduan seakan terobati dengan hadirnya tugas dinas mengunjungi provinsi Yogyakarta 18-21 Agustus 2009, maka disela-sela waktu menjalankan pekerjaan pasti termanfaatkan secara optimal dan efektif untuk mereguk keramahan wong Yogya, eh kota Yogya juga he he eh.
Salah satu sudut kota ini yang sering membuat kangen adalah suasana Malioboro, ramai dan kekhasan pedagang kaki lima menjajakan dagangannya seakan tak tergantikan oleh suasana dikota lain. Malioboro memang peradaban budaya masa kini yang masih kental dengan nuansa luhur budaya silam. Menikmati hal ini seakan mengundang sebuah fantasi surgawi yang begitu berkesan bagiku.Memainkan kamera butut yang mengelantung di pinggang akhirnya menjadi keasyikan tersendiri, disela-sela itu melihat beragam barang-barang souvenir juga cukup menghibur sambil menunggu datangnya malam. Melakukan tawar menawar atas beberapa barang-barang untuk oleh-oleh keluarga dan teman tentu sebuah keasyikan tersendiri. Dengan berbekal bahasa jawa kromo ingigil yang aku miliki maka semuanya lancar.
Pada tanggal 19 Agustus 2009 seusai makan siang, ketika sedang melakukan kunjungan lapangan di Sleman, maka atas inisiatif teman-teman Yogya akhirnya kami mengunjungi salah satu kaki Gunung Merapi. Setelah sempat beberapa saat kendaraan agak kerja keras karena jalanan menanjak, akhirnya kami sampai pada salah satu jalan yang bernama ROSA. Asal muasal nama jalan ini ternyata berfokus pada sang pemberani; mbah Maridjan.Setelah kami susuri ternyata jalan tersebut memandu kami menuju rumah mbah Maridjan. Rumah yang cukup besar, khas nuansa pedesaan, namun saya bisa menangkap aura rumah yang begitu kuat akan idialita, semangat dan kesederhanaan para penghuni didalamnya. Hal ini tentu nyambung dengan realitas sosial yang menjadikan mbah Maridjan sebagai tauladan tentang bagaimana menjaga elan vital untuk mengabdi, dengan bertatahkan jiwa dan raga. Sebuah ketulusan dan kepatuhan tanpa sayap kepada sang penguasa. Dedikasi yang syarat akan ajaran profesionalitas seorang penjaga gunung menjadi barang langka pada abad kekinian.
Kami juga disambut bangunan masjid yang cukup bagus, dan khabarnya pembangunannya merupakan penyisihan hasil dari pendapatan mbah Maridjan dari saat membintangi iklan. Kami juga melihat jalan diseputar rumahnya juga sudah di rabat dengan rapi, pemandangan khas kaki gunung dengan aroma lava yang masih terasa. Beberapa jepretan kamera sempat saya lakukan juga. Setelah mendekat masuk rumahnya saya melihat mbah Maridjan lagi sibuk menerima rombongan tamu dari Surabaya yang ingin mendengarkan pengalaman hidupnya menjaga merapi.
Karena mbah Maridjan kurang berkenan untu difoto maka rumah tinggalnya menjadi pelampiasan. Setelah merasa cukup dengan beberapa belas menit mengamat-amati keadaan akhirnya tim bergerak kearah penampungan lava yang terletak diatas bukit sebelah atas rumah mbah Maridjan. Keindahan merapipun akhirnya terabadikan. Sayang waktu tidak begitu banyak memberiku kesempatan karena agenda kerja sudah menanti.
Langganan:
Postingan (Atom)



